Pages

Jumat, 18 Februari 2011

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PEMIKIRAN FILSAFAT AL-FARABI DAN FILSAFAT IBNU MISKAWAIH

Nama : Pupuh Tandian
NIM : 208 203 459
Kelas : PAI / D / V
Mata Kuliah : FIlsafat Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Filsafat merupakan salah satu ilmu yang cukup terkenal dan banyak dibicarakan hingga hari ini. Banyak bermunculan tokoh-tokoh filsafat tak terkecuali tokoh filsafat Islam, salah satunya adalah Al-Farabi dan Ibnu miskawaih. Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang biografi para beliau, pemikiran-pemikiran filsafatnya dan persamaan serta perbedaan filsafat antara keduanya.

B. Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yakni:
1. Bagaimana pemikiran Filsafat Al- Farabi itu?
2. Bagaimana pemikiran Filsafat Ibnu Miskawaih itu?
3. Hal-hal apa yang menyamakan antara pemikiran Filsafat Al-Kindi dan Filsafat Ibnu Miskawaih serta apa saja yang membedakan pemikiran dari keduanya !

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dari pembahasan ini adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan tentang Filsafat Al-Farabi.
2. Menjelaskan tentang Filsafat Ibnu Miskawaih.
3. Mendeskripsikan persamaan serta perbedaan pemikiran antara Filsafat Al-Farabi dan Filsafat Ibnu Miskawaih.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Filsafat Al-Farabi dan corak Filsafatnya
Nama lengkap Al-Farabi adalah Abu Nasir Bin Muhammad Bin Auzalugh Bin Turkhan. Dikalangan orang latin Abad Tengah Al-Farabi lebih dikenal dengan nama Abu Nashr (Abunaser). Ia lahir di Wasij, Distrik farab (sekarang dikenal dengan nama atrar, Turkistan pada tahun 257 H/870 M). Disebut Farabi karena kelahirannya di farrab, yang juga di sebut kampung utrar. Dahulu masuk daerah Iran, akan tetapi sekarang menjadi bagian dari Republik Uzbekistan, dalam daerah Turkestan, Rusia. Ayahnya berkebangsaan Persia sebagai seorang Jenderal, yang memiliki posisi penting di Parsi dan Ibunya berkebangsaan Turki. Kepribadian Al-Farabi, sejak kecil ia tekun dan dan rajin belajar. Dalam berolah kata, tutur bahasa, Ia mempunyai kecakapan luar biasa.
Adapun corak dari filsafat Al-Farabi yakni sebagai berikut :
1. Metafisika
Dalam Masalah ketuhanan Al-Farabi menggunakan pemikiran Aristoteles dan neo-Platonisme, yakni Al-Maujud Al-Awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Dalam Pembuktian adanya Tuhan Al-Farabi mengemukakan dalil Wajib Al-Wujud dan Mumkin Al-Wujud, menurutnya segala yang ada ini dua kemungkinan dan tidak ada alternatis yang ketiga.
Wajib Al-Wujud adalah wujudnya tidak boleh tidak ada, adanya dengan sendirinya, esensi dan wujudnya adalah sama dan satu. Ia adalah wujud yang sempurna selamanya dan tidak didahului oleh tiada, Jika wujud ini tidak ada, maka akan timbul kemustahilan, karena wujud lain untuk adanya tergantung kepadanya. Inilah yang di sebut dengan Tuhan.
Mumkin Al-Wujud maksudnya adalah Tidak akan berubah menjadi wujud aktual tanpa adanya wujut yang menguatkan, dan yang menguatkan itu bukan dirinya tetapi wajib Al-Wujud. Walau pun demikian, mustahil terjadi daur dan tasalsul (Prosessus in infinutum), karena rentetan sebab akibat itu akan berakhir pada Wajib Al-Wujud.
Al-Farabi mengklasifikasikan yang wujud kepada dua rentetan yaitu :
a) Rentetan wujud yang esensinya tidak berfisik. termasuk dalam hal ini Varitas yang tidak berfisik dan tidak menempati fisik (Allah, akal pertama, dan uqaul al-akhlak), serta yang tidak berfisi tetapi bertempat pada fisik (Jiwa, bentuk, dan materi).
b) Rentetan wujud yang berfisik yaitu benda benda lagit, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda tambang, dan unsur-unsur yang empat (air, udara, tanah, dan api).
Tujuan Al-Farabi mengemukakan teori emanasi tersebut untuk menegaskan ke maha Esaan Tuhan. Karena tidak mungkin yang Esa berhubungan dengan yang tidak Esa atau banyak. Andai kata alam di ciptakan secara langsung, mengakibatkan Tuhan berhubungan dengan yang tidak sempurna, dan ini menudai ke Esaannya. Jadi dari Tuhan yang maha Esa hanya muncul satu yakni akal pertama yang berfungsi sebagai perantara dengan yang banyak. Disamping itu Tuhan juga bagi Al-Farabi tidak mempuyai kehendak, karena hal itu membawa ketidaksempurnaan, termasuk melimpahnya yang banyak dari dirinya secara sekali gus dan itu tidak terjadi dalam waktu. dari pendapat ini Al-Farabi hanya menyatakan alam adalah taqoddum zamani bukan taqoddum dzati.
2. Jiwa
Al-Farabi dalam masalah Jiwa di pengaruhi oleh Filsafat Plato dan arestoteles dan platinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa tidak berpindah-pindah dari suatu badan ke badan yang lain.
Jiwa-jiwa manusia mempunyai daya-daya , sebagai berikut :
a) Daya gerak seperti makan, memelihara dan berkembang;
b) Daya mengetahui yaitu: Merasa, Imaginasi ; dan
c) Daya berfikir yakni: Akal praktis dan teoritis.
Daya teoritis terbagi kepada tiga tingkatan yaitu sebagai berikut:
 Akal Potensial baru mempunyai potensi berpikir dalam arti; melepaskan arti-arti atau bentuk-bentuk dari materinya.
 Akal Aktual, telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya, dan arti-arti itu telah mempuyai wujud akal dengan sebenarnya, bukan lagi dalam bentuk potensi, tetapi dalam bentuk aktual.
 Akal Mustafad; telah dapat menangkap bentuk semata-mata yang tidak di kaitkan dengan materi dan mempunyai kesanggupan mengadakan komunikasi dengan akal.
3. Politik
Pemikiran Al-Farabi lainnya yang amat penting adalah tentang politik yang ia tuangkan dalam dua karyanya, Al-Syiyasah Al-Madaniyyah (pemerintahan politik) dan Arra’al Madinah Al-Fadilah (pendapat negara utama) banyak di pengaruhi oleh konsep plato yang menyamakan konsep negara dengan tubuh manusia ada kepala, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Yang paling penting dari tubuh manusia adalah kepala, karena dari kepalalah segala perbuatan manusia di kendalikan. Sedangkan untuk mengendalikan kerja otak di lakukan oleh hati. Demikian juga dalam negara. Menurut Al-Farabi yang amat penting dalam negara adalah pimpinannya atau penguasanya bersama-sama bawahannya sebagai mana halnya jantung dengan organ-organ tubuh yang lebih rendah secara berturut-turut. Penguasa ini harus yang paling unggul baik dalam bidang intelektual maupun moralnya diantara yang ada. Disamping daya fripentik yang di karuniakan tuhan kepadanya, ia harus mempunyai kwalitas-kwalitas yang berupa :
a) Kecerdasan;
b) Ingatan yang baik;
c) Pikiran yang tajam;
d) Cinta kepada pengetahuan;
e) Sikap moderat dalam hal makanan, minuman, dan seks;
f) Cinta kepada kejujuran;
g) Kemurahan hati;
h) Kesederhanaan;
i) Cinta kepada keadilan;
j) Ketegaran dan keberanian serta kesehatan jasmani; dan
k) Kefasihan berbicara.
4. Moral
Al-Farabi menekankan empat jenis sifat utama yang harus menjadi perhatian untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga negara yakni :
a) Keutamaam tioritis yaitu prinsip-prinsip pengetahuan yang di peroleh sejak awal tanpa di ketahui cara dan asalnya, juga yang di peroleh dengan kontemplasi, penelitian, dan melalui belajar dan mengajar;
b) Keutamaan pemikiran adalah yang memungkinkan orang mengetahui hal-hal yang bermanfaat dalam tujuan. termasuk dalam hal ini kemampuan membuat aturan-aturan karena itu di sebut keutamaan jenis ini dengan keutamaan pemikiran budaya. (Fadhail ‘il Fikriyyah Madaniyyah);
c) Keutamaan akhlak bertujuan mencari kebaikan, jenis keutamaan ini berada di bawah dan menjadi syarat keutamaan pemikiran kedua jenis keutamaan tersebut terjadi dengan tabiatnya dan bisa juga terjadi dengan kehendak sebagai penyempurna tabiat atau watak manusia; dan
d) Keutamaan amaliyah di peroleh dengan dua cara yaitu pernyataan-pernyataan yang memuaskan dan merangsang. cara lain adalah pemaksaan.
Selain di atas Al-Farabi menyarankan agar bertindak tidak berlebihan yang dapat merusak jiwa dan fisik atau mengambil posisi tengah-tengah.
5. Teori kenabian
Teori kenabian yang diajukan Al-Farabi di motivisir oleh pemikiran filosofis pada masanya yang mengingkari eksistensi kenabian. Menurut Al-Farabi manusia dapat berhubungan dengan Aql Fa’al melalui dua cara yakni penalaran atau renungan pemikiran dan imaginasi (al mutakhayyilah) yang sangat kuat atau intuisi (Ilham).
Cara pertama hanya dapat dilakukan oleh pribadi pribadi pilihan yang dapat menembus alam materi untuk dapat mencapai cahaya keTuhanan sedangkan
cara kedua hanya dapat di lakukan oleh nabi. Perbedaan kedua cara tersebut hanya pada tingkatannya, dan tidak mengenai esensinya.
Ciri khas seorang nabi bagi Al-Farabi adalah mempunyai daya imaginasi yang kuat di mana obyek indrawi dari luar tidak dapat mempengaruhinya ketika ia berhubungan dengan aql fa’al (Kesepuluh malaikat) ia dapat menerima visi dan kebenaran dalam bentuk wahyu.
Dari beberapa uraian di atas maka dengan sepantasnya bila Al-Farabi di kenal sebagai filsuf Islam yang terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuwan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna.

B. Filsafat Ibnu Miskawaih dan corak Filsafatnya
Ibnu Miskawaih adalah filsuf muslim yang hidup antara tahun 330-421 H/940-1030 M. Ia menyandang nama lengkap Abu Ali Ahmad Ibnu Miskawaih. Beliau lahir di Raiy, salah atu kota yang dalam abad sekitar hidupnya sangat terkenal di Persi, yaitu Teheran sekarang ini.
Adapun corak dari filsafat ibnu miskawaih yaitu sebagai berikut:
1. Ketuhanan
Tuhan, menurut miskawaih adalah zat yang tidak berjism, azali, dan pencipta. Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkan-Nya. Tampaknya pemikiran Ibnu Miskawaih sama dengan pemikiran Al-Farabi dan Al-Kindi.
Tuhan dapat dikenal dengan propogasi negatif dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya, prograsi positif. Alasannya prograsi positif akan menyamakan Tuhan dengan alam.
Segala sesuatu di alam ini ada gerakan.Gerakan tersebut merupakan sifat bagi alam yang menimbulkan perubahan pada sesuatu dari bentuknya semula. Ia bukti tentang adanya Tuhan pencipta alam.pendapat ini berdasarkan pada pemikiran aristoteles bahwa segala sesuatu selalu dalam perubahan yang mengubahnya dari bentuk semula.
Sebagai filosofis religius sejati, Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan Allah dari tiada menjadi ada, karena penciptaan yang sadah ada bahan sebelumnya tidak ada artinya, disinilah letak persamaan pemikirannya dengan Al-Kindi dan berbeda dengan Al-Farabi bahwa Allah menciptakan alam dari sesuatu yuang sudah ada.
2. Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga menganut paham emanasi, yakni Allah menciptakan alam secara pancaran. Namun Emanasinya berbeda dengan Al-Farabi, menurut entitas pertama yang memancarkan dari Allah ialah akal aktif.akal aktif ini tanpa perantara apapun, ia kadim, sempurna dan tak berubah. Dari akal inilah timbul jiwa dengan perantaraan jiwa pula timbullah planet. Pelimpahan dan pemancaran yang terus menerus dari Allah dapat memelihara tatanan di dalam alam ini. Andaikan Allah menahan Pancaran-Nya, maka akan terhenti kemaujudan alam ini.
Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan perbedaan Emanasi Antara Ibnu Miskawah dan Al-Farabi sebagai berikut:
a) Bagi Ibnu Miskawaih, Allah menjadikan alam ini secara Emanasi dari tiada menjadi ada, sedangkan menurut Al-Farabi alam dijadikan tuhan secara pancaran dari bahan yang sudah ada menjadi ada.
b) Bagi Ibnu Miskawaih Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif, sedangkan menurut Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif adalah akal kesepuluh.
Dari uaraian diatas dapat ditegaskan bahwa dalam masalah pokok Ibnu Miskawaih sejalan dengan pemikiran Guru Kedua Al-Farabi, akan tetapi dalam penyelesaian masalah ini lebih cenderung kepada Al-Kindi dan Teolog Muslim.
Sebagaimana Ikhwan Al-Shafa, Ibnu Miskawaih juga mengemukakan teori Evolusi, menurutnya alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan dan alam manusia merupakan rentetan yang sambung mernyambung. Antara setiap alam tersebut terdapat jarak waktu yang sangat panjang, taransisi dari alam mineral ke alam tumbuh-tumbuhan terjadi melalui merjan dari alam tumbuh-tumbuhan ke alam hewan melalui pohon kurma dan dari alam hewan ke alam manusia melalui kera.
3. Kenabian
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga Menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah, usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan filosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu.
Menurut Ibnu Miskawaih, nabi adalah seorang muslim yang memperoleh hakikat hakikat kebenaran seperti ini juga diperoleh oleh para filosof. Perbedaannya hanya terletak pada tehnik memperolehnya. Filosof mendapatkan kebenaran tersebut dari bawah ke atas dari daya indrawi menaik ke daya khayal dan menaik lagi ke daya fikir yang dapat berhubungan dan menangkap kebenaran dari akal aktif. Sementara itu Nabi mendapatkan kebenaran diturunkan dari atas ke bawah, yakni dari akal aktif langsung kepada nabi sebagai rahmat Allah.
Penjelasan diatas dapat dijadikan petunjuk bahwa bahwa Ibnu Miskawaih berusaha merekonsiliasi antara agama dan filsafat dan keduanya mesti cocok dan serasi, karna sumber keduanya sama, justru itulah filosof adalah orang yang paling cepat menerima dan mempercayai apa yang dibawa oleh nabi karena nabi membawa ajaran yang tidak bertolak pada akal fikiran manusia. Namun demikian, tidak berarti manusia tidak membutuhkan nabi karena dengan perantaraan nabi dan wahyulah manusia dapat mengetahui hal-hal yang bermanfaat yang dapat membawa manusia kepada kebahagian. Ajaran ini tidak dapat dipelajari oleh manusia kecuali para filosof, dengan kata lain sangat sedikit kuantitas manusia yang dapat mencapainya. Hal ini karena filsafat tidak dapat di jangkau oleh semua lapisan masyarakat.
4. Jiwa
Jiwa, menurut Ibnu Miskawaih, adalah jauhar rohani yang tidak hancur dengan sebab kematian jasad, ia adalah satu kesatuan yang tidak dapat terbagi bagi, ia akan hidup selalu ia tidak dapat diraba dengan panca indra karena ia bukan jism dan bagian dari jisim. Jiwa dapat menangkap keberadaan zatnya dan mengetahui keaktivitasnya. Argumen yang di majukan adakah jiwa dapat menangkap bentuk sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan.
Jadi Ibnu Miskawaih mensinyalkan bahwa jiwa tidak dapat di bagi-bagi itu tidak mempunyai unsur, sedangakan unsur-unsur hanya terdapat pada materi, namun demikian, jiwa dapat menyerap materi yang kompleks dan non materi yang sederhana.
Dalam kesempatan lain, Ibnu Miskawaih juga membedakan antara pengetahuan jiwa dan pengetahuan panca indra, secara tegas menyatakan bahwa panca indra tidak dapat menangkap selain apa yang dapat diraba atau di indra, sementara jiwa dapat menangkap apa yang dapat ditangkap panca indra, yakni dapat diraba dan juga tidak dapat di raba.
Tentang balasan akhirat, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwalah yang akan menerima balasan di akhirat, karena menurutnya kelezatan jasmaniyyah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.
5. Akhlak
Ibnu Miskawaih seorang moralis yang terkenal hampir setiap pembahasan, akhlak dalam islam, filsafat ini selalu dapat perhatian utama, keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran islam dan dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai pelengkap, seperti filsafat yunani dan Persia, yang di maksud sumber pelengkap dalah sumber lain baru diambil jika sejalan dengan ajaran islam dan sebaliknya ia tolak, jika tidak demikian.
Akhak menuruit konsep Ibnu Miskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.
Berdasarkan ide di atas, secara tidak langsung Ibnu Miskawaih menolak pandangan orang orang yunani yang mengatakan bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah. Bagi Ibnu Miskawaih akhlak yang tercela bisa berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan dan latihan-latihan. Pemikiran seperti ini sejalan dengan pemikiran dan ajaran islam karena secara eksplisit telah mengisyaratkan ke arah ini dan pada hakikatnya syariat agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia, karena kebenaran ini tidak dapat di bantah sedangkan sifat binatang saja bisa berubah jadi liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia.
Ibnu Miskawaih juga menjelaskan sifat sifat yang utama, sifat sifat ini menurutnya erat kaitannya dengan jiwa. Jiwa memiliki tiga daya, yakni daya marah, daya berfikir, dan daya keinginan. Sifat Hikmah adalah sifat utama bagi jiwa berfikir yang lahir dari ilmu. Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah yang timbul dari jiwa hilm, sementara Murah adalah sifat utama pada jiwa keinginan lahir dari iffah. Dengan demikian ada tiga sifat utama yaitu hikmah, berani dan murah, apabila ketiga sifat utama ini serasi, muncul sifat utama yang keempat, yakni adil.
Dalam kitab Al-Akhlak Ibnu Miskawaih juga memaparkan kebahagian, menurutnya meliputi jasmani dan rohani. Pendapatnya ini merupakan gabungan antara pendapat plato dan Aristoteles. Menurut plato kebahagian yang sebenarnya adalah kebahagian rohani. Hal ini dapat diperoleh manusia apabila rohaniyah telah berpisah dengan jasadnya. Dengan redaksi lain selama rohaniyah masih terikat pada jasadnya, yang selalu menghalanginya mencara hikmah, kebahagiaan dimaksud tidak akan tercapai. Sebaliknya Aristoteles berpendapat bahwa kebahagian dapat di capai dalam kehidupan di dunia ini, namun kebahagian tersebut berbeda di antara manusia, seperti orang miskin kebahagiaanya adalah kekayaan, yang sakit pada kesehatan dan lainnya.
Uraian di atas adapat dijadikan bukti bukti bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih dasar pokoknya adalah ajaran islam. Sementara gabungan pendapat plato Aristoteles merupakan pemikiran pelengkap yang ia terima karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

C. Persamaan dan perbedaan Filsafat Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih
1. Titik persamaan
 Mengenai Tuhan, menurut Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih adalah zat yang tidak berjisim, azali, dan pencipta. Tuhan Esa dalam berbagai aspek, ia tidak terbagi dan tidak mengandung kejamakan dan ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung pada yang lain, sementara yang lain membutuhkan-Nya. Tuhan dapat dikenal dengan propogasi negatif dan tidak dapat dikenal dengan sebaliknya, prograsi positif. Alasannya prograsi positif akan menyamakan Tuhan dengan alam.
 Mengenai Teori kenabian Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih juga menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah, usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan filosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu.
 Mengenai balasan akhirat, sebagaimana Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwalah yang akan menerima balasan di akhirat, karena menurutnya kelezatan jasmaniyyah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.


2. Titik Perbedaan
Dalam hal emanasi antara Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih dikemukakan beberapa perbedaan, yakni sebagai berikut :
 Bagi Ibnu Miskawaih, Allah menjadikan alam ini secara Emanasi dari tiada menjadi ada, sedangkan menurut Al-Farabi alam dijadikan tuhan secara pancaran dari bahan yang sudah ada menjadi ada.
 Bagi Ibnu Miskawaih Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif, sedangkan menurut Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif adalah akal kesepuluh.


BAB III
SIMPULAN
Filsafat merupakan salah satu ilmu yang cukup terkenal dan banyak dibicarakan hingga hari ini. Banyak bermunculan tokoh-tokoh filsafat tak terkecuali tokoh filsafat Islam, salah satunya adalah Al-Farabi dan Ibnu miskawaih.
Adapun corak dari Filsafat Al-Farabi, yakni: metafisika, jiwa, politik, moral, dan teori kenabian. Sedangkan corak dari Filsafat Ibnu Miskawaih, yaitu: ketuhanan, emanasi, kenabian, jiwa, dan akhlak.
Persamaan pemikiran filsafat Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih, yakni sebagai berikut:
1) Mengenai Tuhan, menurut Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih adalah zat yang tidak berjisim, azali, dan pencipta.
2) Mengenai Teori kenabian Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih juga menginterpretasikan kenabian secara Ilmiah, usahanya ini dapat memperkecil perbedaan antara nabi dan filosof dan memperkuat hubungan dan keharmonisan antara akal dan wahyu.
3) Mengenai balasan akhirat, sebagaimana Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwalah yang akan menerima balasan di akhirat, karena menurutnya kelezatan jasmaniyyah bukanlah kelezatan yang sebenarnya.
Perbedaan pemikiran Filsafat Al-Farabi dan Ibnu Miskawaih, yakni dalam hal emanasi dikemukakan sebagai berikut:
1) Bagi Ibnu Miskawaih, Allah menjadikan alam ini secara Emanasi dari tiada menjadi ada, sedangkan menurut Al-Farabi alam dijadikan tuhan secara pancaran dari bahan yang sudah ada menjadi ada.
2) Bagi Ibnu Miskawaih Ciptaan Allah yang pertama ialah akal aktif, sedangkan menurut Al-Farabi ciptaan Allah yang pertama ialah akal pertama dan akal aktif adalah akal kesepuluh.
DAFTAR PUSTAKA

 Hasyimsyah Nasution MA. Dr. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002.
 Tj. De Boer, Tarekh Al-Falsafah Fi Al-Islam, terjemahan Arab oleh Abd Al-Hadi Abu Raidah, 1988.
 Daud, Ahmad. Segi-Segi Pemikiran Filsafat Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
 Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
 Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar